Gila mantra

Dan kuceritakan kembali perihalmu kepada malam, karena hanya malam yang dapat membelaimu.

Lalu kau tertidur.
Ku kecupkan untukmu do'a, karena hanya do'a yang dapat mewakiliku.

Lalu kau bangun.
Ku harapkan untukmu ketenangan, karena hanya tenang yang dapat menimangmu.

Lalu kau berkedip sambil menyibakkan rambut.
Ku harapkan untukmu semangat, karena hanya semangat yang dapat menggairahkanmu.

Lalu kau beranjak bangun, menarik nafas sambil sesekali melihat kearah jendela berembun yang dengan istiqomah menawarkan alam pagi.

Namun, untuk pagi ini, ada hal lain yang berhasil merampok perhatianmu.

 "Ah, sialan". Gumam penulis cemburu.

Kau tampak asik.
Sedangkan aku berkecamuk dengan hal-hal tolol dikepala.
Sejenak aku terdiam, malamun dan pura-pura berfikir.

Kemudian kau bergegas, mungkin teringat akan mentari yang sebentar lagi melangit. Dan jelas terlihat bahwa kau akan memulai rutinitasmu.
Aku masih diam.
Berkecamuk dengan perumpamaan yang membayangkan gagak gila. Daun menari.
Ranting berseloroh.
Embun bergurau.
Rumput yang terkulai atau resepsi burung hantu yang belum selesai tadi malam???.

Apa sebenarnya yang dengan mudah membuat senyummu bertebaran?. "Lalu apa hakmu untuk cemburu". Seru logikaku.
"Ah bangsat, imajinasiku tak selaras dengan keadaan, lamunanku terlalu jauh".
Aku semakin penasaran dan semakin tergilakan mantra.

Dan ku harapkan untukmu keselamatan, karena hanya keselamatan yang dapat membuat dunia merona sehingga tersenyum lah semua yang hidup dan yang terhidupkan.

Komentar